Kajian terjemah Fawaidul Mukhtaroh Part 1

 *KITAB AL-FAWAID AL-MUKHTAROH*

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد 

Hati merupakan pusat penilaian Allah Swt, sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya *"Sesungguhnya Allah tidak menilai bentuk fisik dan harta kalian, tetapi Allah menilai hati dan amal-amal kalian".*

Apabila hati manusia bagus, maka semua amal manusia akan bagus, begitu pula sebaliknya, jika hatinya jelek, maka semua amal perbuatannya juga jelek, sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya "Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika segumpal darah ini bagus, maka bagus pula semua jasad itu, dan jika segumpal darah ini jelek, maka jelek pula semua jasad itu. ketahuilah! Segumpal darah itu adalah hati"

*Apabila manusia menghendaki hatinya bagus, maka dia harus menghidupkan hati dan menyinarinya dengan samudera hikmah dan mutiara ilmu, karena hati ibarat jasad yang membutuhkan makanan, jika tidak diberi makanan maka ia akan mati,* sebagaimana yang dikatakan oleh al Imam Fathul Mushili kepada murid-muridnya: "Bukankah orang sakit jika tidak diberi makanan, minuman dan obat akan mati? Mereka menjawab: ya, Fathul Mushili berkata "Begitu juga hati, jika tidak diberi kata-kata hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka ia akan mati karena makanan hati adalah ilmu dan hikmah, dengan dua hal inilah hati bisa hidup" 

Kitab yang ditulis *al Habib Ust. Ali bin Hasan Baharun* ini adalah salah satu kitab yang berisi kumpulan hikmah dan ilmu yang sangat penting yang didengar dari gurunya *al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith* dalam masa belajarnya di Madinah Munawwarah dan referensi yang lainnya. Kitab ini patut untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap muslim untuk menghidupkan hati dan menyinarinya sehingga hati mereka tidak mati, karena jika hati sudah mati maka seseorang tidak dapat melihat dan menerima kebenaran, dan jika sudah demikian maka dia itu sama dengan binatang bahkan lebih sesat lagi.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

*KEUTAMAAN ILMU DAN MENGAJAR [1]*

*Pertemuan ke 1 Hal : 11*

بسم الله الرحمن الرحيم

1- Allah  ﷻ berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

وقل رب زدنى علما ( طه: ١١٤)

"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan" (Q.S. Toha: 114).

Dalam ayat ini Allah memerintah Nabi-Nya *agar memohon tambahan ilmu karena hal itu adalah sesuatu yang paling mulia dan kebaikan yang tertinggi* <al-Manhaj as-Sawy: 108 >

2- Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra. bahwasanya dia melewati pasar Madinah dan singgah di tempat itu seraya berkata: "Wahai orang-orang yang di pasar! Alangkah lemahnya kalian?!., mendengar itu, mereka bertanya: "Apa maksudmu Abu Hurairah?". Dia menjawab: "Di sana ada warisan Rasul sedang dibagikan, sedangkan kalian masih di sini. Apakah kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil bagian dari warisan itu?" Mereka bertanya: "Di manakah itu?", lalu dia menjawab: "Di masjid" Kemudian mereka bergegas keluar (menuju masjid), sedangkan Abu Hurairah diam menunggu hingga mereka kembali, lalu dia bertanya : Ada apa dengan kalian? mereka menjawab: "Wahai Abu Hurairah, sungguh kami telah mendatangi masjid dan masuk ke dalamnya, akan tetapi kami tidak melihat sesuatu pun dibagikan". Maka Abu Hurairah berkata: "Apakah kalian tidak melihat orang di sana mereka menjawab: "Ya, kami melihat beberapa kelompok orang, di antara mereka ada yang sedang sholat, ada yang sedang membaca alQur'an dan ada yang sedang belajar tentang halal dan haram". Maka Abu Hurairah berkata kepada mereka: "Ah kalian! Itulah warisan Nabi Muhammad ﷺ", mengisyaratkan dengan hadits Rasulullah ﷺ:

*«إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما وإنما ورّثوا العلم»*

*«Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta akan tetapi mewariskan ilmu»* <Mujib Dar al-salam: 141>

*Al-Faqîr Ubaidillah Arsyad*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian terjemah Fawaidul Mukhtaroh Part 4

IBADAH TANPA ILMU [1]